Daftar Blog Saya

Sabtu, 19 Oktober 2013

TEKNIK OPERASI DAN INDIKASI LAPAROTOMY

 TUGAS MATA KULIAH
ILMU BEDAH KHUSUS VETERINER


TEKNIK OPERASI DAN INDIKASI LAPAROTOMY



DEBORA ISAKH                                                    0909005049
KHAMID YUSUF BAEHAQI                                1009005030
KORBINIANUS FERIBERTUS RINCA              1009005092
RIO FADLY JUDIKA SIHOMBING                    1009005116
SURIANSYAH                                                         1109005046





LABORATORIUM BEDAH VETERINER
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN 2013

RINGKASAN
Laparotomi merupakan suatu tindakan bedah atau penyayatan (prosedur pembedahan) untuk membuka rongga abdomen. Istilah lain dari laparotomy adalah Celiotomy. Masing-masing posisi penyatan atau pembedahan memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Pemilihan posisi penyayatan atau pembedahan laparotomi ini didasarkan kepada organ target yang dituju.
Pada hewan kecil, laparotomi yang umumnya dilakukan adalah laparotomi medianus dengan daerah orientasi pada bagian abdominal ventral tepatnya di linea alba. Tindakan bedah laparotomi biasa dilakukan untuk menangani kasus – kasus yang terjadi pada hewan kecil diantaranya dilakukan di daerah abdomen. Tujuan laparotomi adalah untuk menemukan dan mengetahui keadaan organ visceral yang ada di dalam ruang abdominal secara langsung serta untuk menegakkan diagnosa.

SUMMARY
Laparotomy is a surgery or incision (surgical procedure) to open the abdominal cavity. The other term of laparotomy is Celiotomy. Each position or surgical incision has its own  and disadvantages. Selection of laparotomy incision position is based on the intended target organ.
In small animals, laparotomy is commonly performed with a median laparotomy orientation area on the ventral abdominal precisely in the linea alba. Laparotomy surgery is commonly used to treat cases that occur on small animals such as performed in abdominal area. Laparotomy purpose is to find and know the conditions that exist visceral organs in the abdominal space directly as well as for diagnosis.


KATA PENGANTAR
            Puji Syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmatNyalah kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah ilmu Bedah Khusus Veteriner tepat pada waktunya.
            Adapun paper ini kami selesaikan utnuk memenuhi tugas yang telah diberikan untuk kelompok kami tentang Teknik Operasi Dan Indikasi Laparotomy.
            Dengan adanya tugas mengenai Teknik Operasi Dan Indikasi Laparotomy diharapkan dapat menambah wawasan untuk pembaca dan juga penulis. Kami sadar bahwa paper kami jauh dari sempurna untuk itu kritik dan saran yang membangun kami harapkan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laparotomy merupakan suatu tindakan bedah (prosedur pembedahan) untuk membuka rongga abdomen. Istilah lain dari laparotomy adalah Celiotomy.
Laparotomi terdiri dari tiga jenis yaitu laparotomi flank, medianus dan paramedianus. Masing-masing jenis laparotomi ini dapat digunakan sesuai dengan fungsi, organ target yang akan dicapai, dan jenis hewan yang akan dioperasi. Umumnya pada hewan kecil laparotomi yang dilakukan adalah laparotomi medianus dengan daerah orientasi pada bagian abdominal ventral tepatnya di linea alba. Organ-organ pada saluran pencernaan, saluran limfatik, saluran urogenital dan saluran reproduksi merupakan organ tubuh yang berada di ruang abdomen. Semua organ tersebut dapat ditemukan dengan menggunakan teknik operasi laparotomi.
Tindakan bedah biasa dilakukan untuk menangani kasus – kasus yang terjadi pada hewan kesayangan diantaranya dilakukan di daerah abdomen. Jenis-jenis tindakan bedah yang sering dilakukan diantaranya adalah laparotomi, cystotomi, histerektomi, ovariohisterektomi, kastrasi, caudektomi, enterektomi dan lain sebagainya.
Banyak kasus bedah yang ditangani dengan melakukan tindakan laparotomi, baik medianus, paramedianus anterior maupun posterior, serta laparotomi flank. Masing-masing posisi memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Pemilihan posisi penyayatan laparotomi ini didasarkan kepada organ target yang dituju. Hal ini untuk menegakkan diagnosa berbagai kasus yang terletak di rongga abdomen. Tujuan laparotomi adalah untuk menemukan dan mengetahui keadaan organ visceral yang ada di dalam ruang abdominal secara langsung serta untuk menegakkan diagnosa.




BAB II
TUJUAN DAN MANFAAT
2.1 Tujun
Tujuan dari penulisan ini antara lain :
a.       Mengetahui secara mendetail tentang laparotomy pada hewan.
b.      Menemukan organ visceral yang ada didalam ruang abdominal atau peritoneal
c.       Mempertegas diagnosa (pruff laparotomy)
d.       Mengetahui teknik pembedahan dan indikasi laparotomy
e.       Melatih mahasiswa dalam penyusunan karya ilmiah maupun skripsi
2.2 Manfaat
            Manfaat dari tulisan ini :
a.       Memberi manfaat bagi pembaca (peternak) tentang pengetahuan teknik operasi dan indikasi laparotomy pada hewan peliharaannya.
b.       Dapat melakukan pembedahan laparotomy.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Defenisi Laparotomy
Laparotomi berasal dari dua kata terpisah, yaitu laparo dan tomi. Laparo berati perut atau abdomen sedangkan tomi berarti penyayatan. Sehingga laparotomi dapat didefenisikan sebagai penyayatan pada dinding abdomen atau peritoneal. Istilah lain untuk laparotomi adalah celiotomi (Fossum,2002).

3.2 Anatomy Bedah Laparotomy.
Musculus (otot) abdomen mempunyai suatu pola yang sama dan hanya sedikit variasi pada beberapa spesies hewan. Musculus obliqus abdominis externa dan M.obliqus abdominis interna serta musculus transversus abdominis masing-masing merupakan masa otot yang membentuk tendo insertio fibrosa yang lebar atau disebut sebagai aponeurosa. Aponeurosa m.obliqus abdominis externa dan interna bersatu pada linea alba externa  pada m. rectus abdominis yang rata, yang bersama-sama membentuk selubung/lamina eksterna m. rectus abdominis. Aponeurosa m. transversus abdominis membentuk lamina interna m. rectus abdominis, dan ini bersatu pada linea alba di bagian interna m.rectus abominis bersama sama  dengan peritoneum.


3.3  Macam-Macam Bedah Laparotomy.
Pada hewan kecil, ada 2 macam bedah laparotomy pada hewan kecil  yaitu :
a). Laparotomy Anterior (Dorsal/Cranial). Daerah insisinya antara umbilicus dan cartilago xiphoideus.
b). Laparotomy Posterior (Ventral/Caudal). Daerah insisinya antara umbilicus dan tepi pelvis.

3.4  Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Bedah Laparotomi.
 Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan bedah laparotomy, antara lain :
a)      Kerusakan jaringan karena insisi harus seminimal mungkin (satu kali irisan panjang  akan   lebih baik dari pada sebuah irisan pendek yang  dilakukan dengan beberapa kali sayatan).
b)      Ligasi/pengikatan pembuluh darah pada daerah insisi dapat menyebabkan penundaan kesembuhan luka. Sebaiknya pembuluh darah hanya dijepit/diklem dengan arteri klem (forceps hemostatic) atau perdarahan yang terjadi dihentikan dengan penekanan tampon selama 1-2 menit.
c)      Skalpel harus benar-benar tajam, sedapat mungkin mata pisaunya/blade harus baru.
d)     Peritoneum pada hewan kecil adalah tipis dan bila dijahit secara terpisah/tersendiri akan mudah robek. Sebaikanya peritoneum dijahit bersama-sama dengan semua jaringan linea alba.

3.5  Persiapan Pra Operasi Bedah Laparotomi.
3.5.1        Persiapan Hewan
Hewan diukur kesehatannya, diukur suhu tubuhnya,mengukur frekuensi nafas, mengukur frekuensi nadi, berat badan diukur, limphonodus dan selaput lendir.
3.5.2        Persiapan Peralatan
Satu set alat operasi minor, 4 towl klaim, 2 pinset anatomis dan syrorgis, 1 pisau bedah dan skapel, 3 gunting, 4 tang arteri lurus, 2 tang arteri lurus anatomi, 2 tang arteri bengkok anatomi, 2 tang arteri lurus cyrorgis,dan 1 needle holder.
3.5.3        Obat-obatan.
Disinfektan (alcohol,Iodine Tinctur), preanestesi (atropine sulfat), sedative
(chlorpromazine, xylazin Hcl), anestesi (ketamine Hcl, lidokain ), anti radang (Vitamin K), cairan infus(Nacl Fisiologis, Laktat Ringer),dan antibiotic ( ampicillin,Terramicyn)
3.5.4        Perlengkapan Operator dan Asisten.
Tutup kepala dan masker, sikat tangan, handuk kecil, baju operasi, dan sarung tangan.


BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Tempat Insisi.
Pada umumnya hewan kecil, laparotomi yang dilakukan adalah laparotomi medianus dengan daerah orientasi pada bagian abdominal ventral tepatnya di linea alba.

4.1.1 Indikasi : Mencapai diaphragma, hepar, gaster dan pylorus.
Insisi Garis Tengah Cranial (Cranial Midline/ Linea Mediana  Cranial), mulai dari umbilicus sampai cartilago xiphoideus. (Gambar 3.1). Penampang melintang dinding abdomen. Anak panah menunjukkan tempat insisi di linea mediana (linea alba/garis tengah). (Gambar 3.1a) Menunjukkan jahitan di linea alba dan jahitan penguat pada m. rectus abdominis (Gambar 3.1b).
Gambar. 3 Tempat Insisi untuk Mencapai diaphragma, hepar, gaster dan pylorus

4.1.2 Indikasi  : Mencapai vesica urinaria, kelenjar prostat, colon dan abdomen bagian caudal (jantan) dan Mencapai ovarium, uterus, usus, vesica urinaria dan abdomen bagian caudal (betina)
Insisi Garis Tengah Caudal (Caudal Midline/Linea Mediana Caudal) pada hewan jantan (Gambar 4a). Insisi Garis Tengah Caudal pada hewan betina, yang dimulai dari umbilicus sampai tepi pelvis (Gambar 4b). Garis titik-titik menunjukkan perpanjangan irisan bila diperlukan untuk mencapai ginjal kanan atau untuk maksud sectio cesarea.
                           
             
4.1.3 Indikasi : Mencapai ren, lien dan discus intervertebralis lumbalis.
Insisi paramedian, di bagian lateral linea mediana melalui m. rectus abdominis (Gambar 5.). Penampang melintang dinding abdomen (Gambar 5.a.). Anak panah menunjukkan tempat irisan melalui m. Rectus. Penutupan dengan jahitan.( Gambar 5.b). Insisi Paracostal(Gambar 6). Di bagain belakang tulang rusuk terakhir, dimulai dari tepi m.psoas sampai m. rectus abdominis.
 

4.2 Insisi Dan Penutupan (Jahitan Penutup) Garis Tengah Abdomen Pada Hewan Betina.
Teknik Bedah :
1.        Hewan dipersiapkan untuk prosedur pembedahan dan diletakkan pada posisi rebah dorsal.  Dibuat insisi (irisan/sayatan) pada kulit dan jaringan subkutan (Gambar7. 1).
2.        Hemorrhagea (perdarahan) dikontrol dengan menggunakan arteri klem kecil (mosquito forceps).  Tepi insisi dikuakkan dengan cara membuka pinset yang dipegang dengan tangan kiri.  Dengan skalpel insisi dilanjutkan sampai mencapai linea alba.  Bila linea alba telah terlihat dilakukan insisi pendek bersama dengan peritoneum sampai rongga abdomen (Gambar 7.2).
3.        Pinset (grooved director) diselipkan ke dalam insisi pendek tadi dan secara hati-hati  pinset  dibuka dan diangkat ke atas untuk mengakat garis insisi.  Selanjutnya insisi diperpanjang  dengan melakukan irisan di antara pinset (hati-hati terhadap struktur organ di bawahnya) (Gambar7. 3).
4.        Pinset diarahkan ke arah yang berlawanan dan insisi dengan skalpel diteruskan ke arah cranial sampai panjang yang diinginkan (Gambar7. 4.).
5.        Dinding abdomen ditutup dengan jahitan terputus  pada peritoneum bersama dengan linea alba (gambar 7.5.)
6.        Untuk memperkuat jahitan utama ini, diberikan jahitan penguat pada m. rectus abdominis bagian ventral dengan jahitan mattress atau menerus (Continuous pattern) (Gambar 7.6.)
7.        Pada hewan gemuk, jaringan subkutan dijahit dengan pola jahitan mattress vertical inverting, dan kulit ditutup dengan pola jahitan sederhana terputus (simple interrupted) (Gambar 7.7.)
8.        Pada anjing jantan, setelah peritoneum dan fascia ditutup seperti yang dijelaskan di atas, penis dikembalikan pada posisi normal dan difiksasikan dengan jahitan benang catgut (absorbable) pada jaringan ikat dan fascia guna menghilangkan dead-space, kemudian kulit dijahit dengan benang nonabsorable.
Catatan  :  Terdapat beberapa tehnik pembukaan dan penutupan insisi garis tengah abdomen.  Metode yang dijelaskan di atas dianjurkan karena kecepatan dan ketepatan pelaksanaannya.


4.3 Insisi Garis Tengah Kaudal (Caudal Midline Incision) Pada Hewan Jantan
Indikasi :   untuk prosedur pembedahan abdomen  bagian belakang

Tehnik Operasi.
  1. Hewan dipersiapkan untuk prosedur pembedahan, dan diletakkan pada posisi rebah dorsal (dorsal recumbency).
  2. Insisi kulit dimulai dari umbilicus dan ketika sampai di depan preputium berbelok ke arah lateral, dan dilanjutkan ke kaudal sampai tepi pelvis (Gambar 8. 1).
  3. Vena epigastrica recurrent superficialis diligasi (diikat) rangkap dan dipotong dekat ujung preputium (Gambar 8.2 dan 8.3).
  4. Jaringan ikat di bawah penis dipreparasi dengan menggunakan skalpel sampai dapat disingkapkan ke arah lateral sehingga linea alba terlihat.
  5. Rongga abdomen dibuka dengan  melakukan insisi peritoneum sepanjang garis linea alba.  Pertama-tama dibuat insisi secara hati-hati sepanjang kira-kira 1 cm  di linea alba sampai peritoneum.  Pinset diselipkan di dalam insisi tadi yang bertindak sebagai penguak (retractor ) dan penuntun (director) selanjutnya insisi diperpanjang dengan menggunakan skalpel atau gunting.  Dapat pula jari (grooved director) diselipkan di dalam insisi untuk menguak dan menuntun skalpel serta melindungi struktur organ di bawahnya (Gambar 8. 4).
  6. Penutupan dinding abdomen dengan pola jahitan sederhana terputus (simple interrupted suture pattern)  memakai benang cat gut (absorbable) pada peritoneum dan fascia diikuti dengan jahitan penguat yang ditempatkan di m. rectus abdominis di bagian ventral.
  7. Penis dikembalikan pada posisi normal dan difiksasi dengan fascia memakai cat gut, hindarilah terjadinya dead-space.  Insisi kulit kemudian  ditutup dengan cara yang biasanya (semestinya).

4.4 Insisi Paracostal
Indikasi  :  pembedahan pada ren, lien, discus intervertebralis lumbalis dsb.
Tehnik :
  1. Hewan dipersiapkan untuk prosedur  pembedahan dengan diletakkan pada posisi rebah lateral kanan atau kiri (Gambar 9.1 dan 9.1a.).  Di bagian caudal tulang rusuk (Costae) terakhir dibuat insisi kulit sepanjang kira-kira 2-3 cm mulai dari loin (m. psoas) sampai hampir di bagian garis tengah abdomen.
  2. Jaringan lemak dan subkutan dipotong dengan gunting dan dipreparasi (preparir) ke bawah  sampai m. obliqus abdominis externa (Gambar 9.2.).  Perhatikan perpaduan antara serabut otot dan aponeurosa tepat di bawah pertengahan insisi.
  3. Aponeurosa m. obliqus abdominis externa diinsisi dengan skalpel atau gunting dan diperpanjang dengan gunting (Gambar 9.3.).
  4. Musculus obliqus abdominis interna diinsisi dengan cara yang sama (Gambar 9.4.).
  5. Musculus transversus abdominis dan peritoneum diinsisi dengan skalpel dan diperpanjang dengan gunting (Gambar 9.5.).
  6. Bagian pinggir m. transversus dan peritoneum dikuakkan dengan allis forceps (forceps jaringan) (Gambar 9.6.).

Catatan :
Insisi paracostal ditutup dengan dijahit lapis demi lapis.  Lapisan paling dalam (peritoneum dan m. transversus abdominis) dijahit dengan pola jahitan sederhana terputus menggunakan benang catgut, demikian pula dengan jahitan lapis ke –2 pada bagian tepi m. obliqus abdominis interna.  Jahitan lapis ke-3 pada m. obliqus abdominis externa dengan cara yang sama, dan jahitan ke-4 adalah pada kulit dengan pola jahitan sederhana terputus atau matress menggunakan absorbable.

4.5 Perawatan Pasca Operasi
            Perawatan pasca operasi pada hewan yang dilakukan bedah laparotomy adalah : Pemberian antibiotika secara general dan topikal, pemberian pakan dan air yang cukup, perlindungan luka operasi, pemberian infus jika perlu, pemberian vitamin jika perlu dan hari ke tujuh jahitan dibuka.

                                                                              BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Laparotomi adalah sebuah tindakan medis yang bertujuan untuk menemukan dan mengetahui keadaan organ visceral yang ada di dalam ruang abdominal secara langsung serta untuk menegakkan diagnosa.
Sebelum dilakukan laparotomi, dilakukan beberapa persiapan diantaranya persiapan operator, alat dan bahan instrumen bedah, pasien, serta tempat untuk laparotomi. Persiapan ini dilakukan bertujuan untuk mempermudah jalannya proses laparotomi. Selain itu dilakukan sterilisasi alat yang bertujuan agar tidak terjadi infeksi mikroba pada pasien dan untuk membantu proses penyembuhan pada pasien.
Setelah dilakukan laparotomi pada pasien dilakukan perawatan pasca operasi pada pasien untuk mempercepat proses penyembuhan luka jahitan pada pasien dan juga untuk mengembalikan kondisi pasien ke kondisi awal.

5.2  Saran
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan paper ini masih jauh dari sempurna, oleh Karen itu saran dan kritik dari pembaca sangat berarti dalam penyempurnaan paper ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar